Mitos Keliru Orang Indonesia terhadap “Cloud Computing”

 

cloud_computing

Mitos Keliru Orang Indonesia terhadap “Cloud Computing”

 

Microsoft baru-baru ini mengumumkan survei tentang adopsi komputasi awan (cloud computing) dan hambatannya. Survei online ini menyasar partner reseller TI di seluruh Asia Pasifik.

Indonesia menjadi salah satu negara yang berpartisipasi di dalamnya dengan jumlah 161 responden.

Menurut Microsoft, terdapat pertumbuhan positif adopsi cloud di Asia Pasifik. “Namun masih ada mitos-mitos yang menjadi penghalang organisasi untuk lebih ulet dan produktif,” terang Bernard Saisse, Direktur Marketing & Operasional Microsoft Indonesia, dalam keterangan pers yang diterima KompasTekno.

Apa saja mitos-mitos tersebut? Urutan pertama yang membuat perusahaan enggan mengadopsi cloud adalah kurangnya privasi. Hal tersebut dikarenakan data-data milik perusahaan disimpan berbarengan dengan data perusahaan lain.

Keamanan menjadi masalah terbesar kedua. Dengan menaruh data ke perusahaan penyedia layanan cloud, biasanya konsumen juga kurang percaya dengan keamanannya karena tidak dikelola sendiri.

Mitos ketiga adalah kondisi yang belum matang, diikuti dengan masalah produktivitas di posisi empat, dan tidak adanya kepemilikan sebagai mitos kelima.

Kelima mitos ini juga berlaku di kawasan Asia Pasifik, hanya urutannya yang berbeda.

Mitos lain yang diungkap oleh Microsoft adalah seputar biaya dan keandalan layanan, tidak adanya nilai tambah, layanan yang kompleks, serta kurang jelasnya tingkat pengembalian investasi.

“UKM (Usaha Kecil Mandiri) adalah kunci pertumbuhan dan mesin inovasi di Indonesia, jadi misi kami adalah memastikan bahwa upaya kami mampu mengedukasi dan meyakinkan para pebisnis bahwa cloud selama ini telah siap memenuhi kebutuhan bisnis mereka,” pungkas Bernard.

 

Source:
-www.tekno.kompas.com
-lintasmediadanawa.com