Bertanam Sayur dengan sentuhan Cloud Computing

Bertanam_Sayur_dengan_sentuhan_Cloud_Computing


Telah banyak bahasan kita tentang Komputasi Awan (Cloud Computing) dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang teknologi Cloud Computing ini bahkan sudah merambah sampai dengan bidang Holtikultura.

Berikut salah satu artikel menarik tentang pengembangan di bidang Perkebunan dengan sentuhan Komputasi Awan (Cloud Computing)

Bertanam Sayur dengan sentuhan Cloud Computing

Fujitsu Limited selama ini memang dikenal sebagai perusahaan yang berhubungan dengan teknologi tinggi, seperti semiconductor dan supercomputer, bukan sebagai perusahaan agrikultura. Tapi, dalam setahun terakhir, Fujitsu juga mengembangkan sayuran dengan sentuhan teknologi tinggi.

Selada air adalah contoh sayuran yang dikembangkan Fujitsu dengan menerapkan teknologi tinggi. Bertempat di Fukushima Prefecture, Fujitsu membudidayakan selada air di dalam laboratorium. Bahkan, mulai akhir bulan ini, Fujitsu akan memasarkan produk baru mereka itu secara online.

Selada air yang dihasilkan Fujitsu memang berbeda dengan yang ditanam oleh kebanyakan petani di Jepang. Pertumbuhan selada ini diawasi dengan ketat sehingga hanya mengandung kalium dalam kadar rendah. Selada ini pun dijamin aman untuk dimakan langsung, bahkan untuk penderita gagal ginjal.

Selada air hasil budidaya dalam laboratorium yang dikembangkan oleh Fujitsu. FUJITSU.COM

Selada air hasil budidaya dalam laboratorium yang dikembangkan oleh Fujitsu. FUJITSU.COM

Presiden Fujitsu Limited, Masami Yamamoto, saat memberikan pidato sambutannya, mengatakan rasa selada ini enak dan renyah. “Rasanya sangat kaya dan tak perlu ditambah bumbu apa pun sudah terasa enak,” katanya sembari memakan selada air itu di atas panggung yang disambut tawa hadirin.

Proyek menanam selada air ini dilakukan Fujitsu sejak pertengahan 2013 di dalam ruangan seluas 2.000 meter persegi. Teknologi sistem Komputasi Awan (cloud computing) digunakan untuk menyimpan data, seperti suhu udara ideal, kelembapan, tingkat CO2, serta jumlah pupuk yang dibutuhkan.

Yang menarik, Fujitsu tak mendatangkan petani untuk menanam sayuran tersebut, tapi menurunkan ahli semiconductor untuk menanam selada air. “Tentu saja mereka mendapat tantangan baru, seperti harus rutin membersihkan selada dan menambah pupuk pada saat yang tepat,” kata Mayumi Mogi, juru bicara Fujitsu.

Selain secara online, Fujitsu menjual selada air laboratorium ini ke beberapa toko dan instansi kesehatan. Pada masa mendatang, Fujitsu juga akan menanam sayur bayam dan selada air Korea, yakni sangchu. Fujitsu berharap bisa menghasilkan pemasukan sebesar US$ 3,91 juta (sekitar Rp 45 miliar) pada 2016 dari penjualan sayuran berteknologi tinggi ini.

Fujitsu bukanlah perusahaan teknologi pertama yang mencoba meraih keuntungan dari agrikultura. Pada September lalu, Sharp juga mencoba membudidayakan tanaman stroberi di dalam laboratorium di Dubai dengan menggunakan teknologi lampu LED dan mesin penjernih udara.

Source:
Firman Atmakusuma – Tempo.co – http://www.tempo.co/ – judul asli: Sayuran dengan Sentuhan Teknologi Tinggi





[wp_bannerize group=”cozy on demand” random=”0″]