Cloud Computing untuk Layanan Kesehatan

Cloud Computing untuk Layanan Kesehatan di Indonesia


 

Cloud Computing untuk Layanan Kesehatan

Secara sederhana, cloud computing adalah internet, atau jaringan server-server tertutup yang memungkinkan informasi untuk diunggah, disimpan, dan diakses kapanpun dan dimanapun. Di Asia Pasifik, banyak organisasi layanan kesehatan yang semakin terpacu dalam mencari solusi yang dapat mendukung layanan yang terpusat pada pasien melalui pengambilan dan distribusi informasi kesehatan dan medis yang efisien. Solusi cloud computing dapat memenuhi kebutuhan industri layanan kesehatan dengan efektif dan efisien.

Cloud – Apakah itu?

Layanan cloud computing  terutama di Indonesia terbagi dalam tiga jenis, yaitu private cloud, public cloud, dan hybrid cloud yang merupakan gabungan dari private cloud dan hybrid cloud.

Dengan layanan private cloud, pelaku industri layanan kesehatan dapat menyimpan informasi sensitif dengan aman. Catatan kesehatan para pasien dapat dikonsolidasi, dibagikan, dan diakses oleh para dokter dari manapun.

Dengan layanan public cloud, pelaku industri layanan kesehatan dapat memberikan akses terbuka untuk community sharing. Para pasien dapat mengakses catatan kesehatan mereka melalui cloud dan berinteraksi dengan para dokter melalui aplikasi layanan kesehatan untuk mengelola perawatan kesehatan mereka dengan lebih baik dan menjaga kondisi kesehatan.

Kenapa menggunakan cloud untuk Big Data Management?

Rata-rata tiap rumah sakit akan menghasilkan data sebanyak 665 terrabyte pada tahun 2015. Jumlah tersebut setara dengan 806.061 kopi dari film Hong Kong yang terkenal, Shaolin Soccer, atau setara dengan video klip ‘Gangnam Style’ oleh Psy yang diputar sebanyak 200 juta kali.

Terlebih lagi, jumlah data seperti arsip imej medis (seperti Xray scan dan lainnya) meningkat 20 sampai 40 persen per tahun.

Alhasil, pada tahun 2015, rumah – rumah sakit di Asia Pasifik akan menghasilkan emisi karbon dua kali lebih besar dibandingkan keseluruhan emisi karbon di India pada tahun 2010.

Para dokter di Cina rata-rata harus merawat pasien sebanyak 960 pasien setiap bulannya (dibandingkan dengan rata-rata jumlah 400 pasien di Amerika Serikat) di lebih dari 20.000 rumah sakit yang masih mempertahankan informasi pasien dan admisitrasi fisik yang berbasis kertas.


Baca juga:

  • Solusi cloud computing di Indonesia untuk perusahaan pengembang software disini

Banner_Cozy


Kesemua hal ini membuat pengelolaan data menjadi hal yang:

  • Mahal
  • Boros waktu
  • Tidak scalable

Jika organisasi-organisasi layanan kesehatan di Asia Pasifik menggunakan cloud:

  • Ruang yang diperlukan untuk penyimpanan atau storage fisik menjadi 0
  • Biaya TI dapat dikurangi sampai dengan 50 persen
  • Ketersediaan non-stop
  • · Penghematan sebesar US$ 106 miliar
  • · Jaringan informasi yang tak bercela

Dengan cloud, perawatan pasien dapat dikembangkan dalam banyak cara;

Pasien yang berlokasi di daerah terpencil dapat menggunakan cloud untuk mengakses tenaga medis ahli yang biasanya berlokasi di pusat kota.

Penggunaan teknologi Telehealth semakin meningkat, menjangkau lebih banyak pasien di daerah terpencil. Para pasien tidak perlu lagi melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan konsultasi yang spesifik yang membantu rumah-rumah sakit mengelola daftar tunggu dengan lebih baik.

Para dokter dapat meninjau hasil diagnosa pasien terakhir dari manapun dan memutuskan apakah pasien sudah dapat keluar dari rumah sakit atau masih memerlukan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Pemanfaatan cloud computing di Indonesia dapat membantu ketersediaan layanan kesehatan yang berkelanjutan, fleksibel, dan efisien untuk semua.

 

Source:
Jagat Review – http://www.jagatreview.com